#AkuPerempuan Siapa bilang bidang IT hanya untuk laki-laki?

Sudah jadi lagu lama, orang cerdas dikalahkan oleh orang yang gigih dan ulet. Dalam perjalanan mencapai tujuan, kamu pasti akan dihadapkan pada banyak tantangan dan kesulitan. Seringkali kamu juga harus melewati kegagalan yang membuatmu perlu mundur beberapa langkah ke belakang.

Tanpa kegigihan, hal-hal tersebut bisa membuatmu patah semangat, mengalami demotivasi, dan menyerah di tengah perjalanan. Alhasil, tujuan yang kamu cita-citakan hanya berakhir dalam impian.

Kesulitan dan kegagalan dapat terjadi pada semua orang, bahkan orang yang dianggap cerdas sekalipun. Salah satunya, Leonika Sari.

1. Leonika Sari Njoto Boedioetomo, 23 tahun, mulanya ingin jadi dokter

Leonika Sari, Perempuan Hebat Surabaya Pendiri Startup Reblood

Sebab, ia ingin menyelamatkan nyawa orang banyak. Semenjak SMA, gadis yang akrab disapa dengan nama Leo ini telah menyukai pelajaran Biologi dan selalu mendapatkan nilai yang baik pada mata pelajaran tersebut. Namun saat tiba waktunya kuliah, Leo tidak jadi mengambil jurusan kedokteran karena beberapa pertimbangan.

Leo memilih jurusan lain yang juga menarik perhatiannya, yaitu Sistem Informasi, di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

2. Digembleng oleh nilai pas-pasan

Leonika Sari, Perempuan Hebat Surabaya Pendiri Startup Reblood

Ranah ilmu yang Leo pilih menuntutnya untuk memiliki keahlian pemrograman yang baik. Padahal, pada semester pertama kuliah, keahlian gadis ini pada bidang tersebut bisa dibilang sangat minim. Akhirnya pada mata kuliah pengantar pemrograman di semester tersebut, Leo harus mendapatkan nilai C. Nilai tersebut menandakan bahwa ia lulus dengan hasil yang pas-pasan.

Apakah Leo menerima kelemahannya begitu saja? Tidak. Ia sudah lama tertarik pada bidang teknologi informasi; alasan yang membuatnya memilih jurusan tersebut ketika tidak jadi masuk jurusan kedokteran. Maka sekalipun mengalami rintangan, Leo terus berusaha mengatasinya.

Ia menghabiskan banyak waktu untuk berlatih dan mempelajari lebih dalam mengenai pemrograman. Menurutnya, pemrograman membuatnya penasaran. Ia tidak termakan stigma umum bahwa pekerjaan di bidang teknologi informasi lebih cocok untuk laki-laki.

Kegigihan dan tekadnya membuahkan hasil. Pada semester berikutnya, dalam mata kuliah pemrograman dengan tingkat kesulitan lebih tinggi, Leo mendapat nilai A.

3. Tidak melupakan cita-cita lama

Leonika Sari, Perempuan Hebat Surabaya Pendiri Startup Reblood

Meskipun tidak jadi kuliah di jurusan kedokteran, Leo tidak melupakan cita-citanya untuk dapat menyelamatkan nyawa banyak orang. Minatnya pada bidang kesehatan masih terus hidup. Apalagi, semasa kuliah, ia banyak menerima broadcast message dari orang-orang yang kesulitan mendapatkan donor darah. Ini membuat Leo menyadari bahwa ketersediaan darah yang ada di PMI belum mencukupi kebutuhan.

Pada tahun 2013 ia bergabung dengan Redblood Indonesia, sebuah tim yang mengembangkan aplikasi Bloobis. Visi dari tim tersebut adalah menyelesaikan masalah kesehatan di Indonesia menggunakan teknologi informasi. Aplikasi Bloobis dibuat untuk membantu rantai pasokan darah rumah sakit serta PMI di Surabaya.

Dalam pelaksanaannya, Leo mengalami kesulitan untuk bekerja sama dengan beberapa rumah sakit, sebab pada saat itu ia masih berstatus mahasiswa. Dan setelah beberapa lama, Redblood harus mengalami hibernasi karena tidak cocok untuk menyelesaikan masalah pasokan darah.

4. Global Entrepreneurship Bootcamp dan ide aplikasi Reblood

Leonika Sari, Perempuan Hebat Surabaya Pendiri Startup Reblood

Tahun 2014, Leo terpilih untuk mengikuti Global Entrepreneurship Bootcamp yang diselenggarakan oleh Massachusetts Institute of Technology. Ia termasuk dalam 47 orang yang terpilih setelah mengalahkan lebih dari 50.000 calon peserta lain di seluruh dunia. Di sana, ia memperoleh beberapa pengetahuan mengenai bisnis startup seperti segmentasi pasar dan bagaimana mendesain sebuah produk yang dapat diwujudkan secara nyata.

Leo pulang ke Indonesia dengan membawa ide. Ia mengetahui bahwa masalah utamanya bukan terletak pada rantai pasokan, tetapi pada ketersediaan donor. Banyak pendonor yang masih enggan datang ke PMI karena sehari-hari disibukkan dengan pekerjaan.

Tidak sedikit juga pendonor yang sudah datang namun ditolak untuk mendonorkan darahnya karena alasan medis. Ketika ada waktu dan hendak mencoba mendonor lagi, banyak pendonor yang tidak tahu kapan dan dimana bisa mendonorkan darahnya. Sebab, seringkali mereka memiliki waktu pada hari libur sedangkan PMI tutup pada hari Minggu.

Maka untuk memecahkan masalah-masalah tersebut, Leo mengajak timnya untuk mengembangkan aplikasi Reblood. Ia bermimpi, suatu hari nanti tidak ada lagi orang yang harus menderita karena kesulitan mendapat pendonor darah.

5. Reblood: Sumber informasi bagi pendonor darah

Leonika Sari, Perempuan Hebat Surabaya Pendiri Startup Reblood

Pengembangan aplikasi tersebut dimulai pada bulan Oktober 2014. Prosesnya bukan tanpa rintangan pula; Leo sempat ditinggalkan oleh tim lamanya. Namun, ia tidak membiarkan hal tersebut menjadi penjegal mimpinya. Ia segera mencari partner baru yang mau membantu hingga akhirnya aplikasi Reblood berhasil diluncurkan pada Bulan Mei 2015.

Aplikasi tersebut berisi informasi mengenai lokasi event donor darah yang dapat dikunjungi oleh pendonor, disertai reminder agar penggunanya tidak terlupa dan melewatkan event tersebut. Selain itu juga terdapat informasi edukatif mengenai donor darah sehingga calon pendonor dapat menyiapkan diri sebelum mendonorkan darahnya. Sekarang, setelah melakukan donor darah, pengguna aplikasi akan mendapat poin yang dapat ditukar dengan bermacam voucher.

Fitur-fitur dalam aplikasi tersebut berhasil meningkatkan jumlah pendonor darah. Setelah dimulai di Surabaya, kini Reblood juga dapat digunakan oleh pendonor di kota-kota lain. Tercatat bahwa jumlah pengunjung yang hadir pada event donor darah bertambah, dan dari jumlah tersebut sebanyak 50% berhasil mendonorkan darahnya tanpa ditolak.

6. Leonika Sari Njoto Boedioetomo, sociopreneur muda penyelamat nyawa

Leonika Sari, Perempuan Hebat Surabaya Pendiri Startup Reblood

Dengan kegigihan yang dimilikinya, Leo berhasil mewujudkan cita-cita yang ia miliki sejak dulu. Ia tidak berhenti berusaha menyelamatkan nyawa banyak orang, meskipun tidak mendalami ilmu yang mulanya ia tuju. Diawali dengan nilai pas-pasan, ia kini berhasil menjadi seorang sociopreneur yang bermanfaat bagi banyak orang.

Inovasinya bahkan membuatnya masuk dalam Forbes 30 Under 30 Asia, atau 30 besar inovator di bawah usia 30 yang menginspirasi di Asia, dari Forbes Media. Bukankah perjalanannya tersebut patut dicontoh? Bahkan di muka kegagalan, kita selalu bisa berbuat lebih.

Dan, sekalipun juga terdengar seperti lagu lama, kita tahu bahwa hasil tidak akan mengkhianati prosesnya. Apa pun yang kamu kerjakan, laki-laki maupun perempuan, selalu ada jalan. Perjalanan masih panjang, bagi kita dan bagi Leonika. --- AZKA